Ahmad Suhud : Hari Kebangkitan Nasional, Masihkah Kita Benar - Benar Bangkit?

Ahmad Suhud : Hari Kebangkitan Nasional, Masihkah Kita Benar - Benar Bangkit?

DELIK HUKUM
Rabu, 20 Mei 2026


KABUPATEN TANGERANG - Dimata Ahmad Suhud sekaku Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten, Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 merupakan tonggak bersejarah lahirnya kesadaran Nasional bangsa Indonesia untuk berjuang meraih kemerdekaan, lepas dari belenggu penjajahan.

Saya secara pribadi menyoroti sejumlah Issue strategis yang bersentuhan langsung dengan masa depan masyarakat, mulai perlindungan anak di era digital hingga peningkatan layanan kesehatan di Kabupaten Tangerang,"uharnya kepada Awak Media.

Ahmad Suhud, menegaskan bahwa tantangan generasi muda saat ini tidak lagi sekadar persoalan pendidikan formal, melainkan juga derasnya arus transformasi digital. Dalam hal ini Pemerintah perlu hadir untuk menjaga tumbuh kembang anak, termasuk dalam penggunaan media sosial yang kini semakin sulit dikendalikan.

“Ancaman bangsa hari ini bukan hanya soal wilayah, tetapi juga kedaulatan informasi dan ruang digital,” ujar Suhud (20/05/2026).

"Saya sangat mendukung upaya dan langkah Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam hal perlindungan anak di ruang digital, termasuk kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun yang mulai diterapkan pada 2026.

Selain menyinggung pendidikan karakter dan digitalisasi pembelajaran, Suhud juga memaparkan sejumlah program strategis Nasional yang mulai berjalan di Kabupaten Tangerang, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga penguatan ekonomi melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Namun peningkatan layanan kesehatan juga harus benar - benar menjadi bagian terpenting dari upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang dalam memperluas akses kesehatan kepada masyarakat, agar warga tidak perlu lagi dirujuk jauh ke luar Daerah untuk penanganan medis tertentu atau rumah sakit swasta.

Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2B Banten juga berharap ASN Kabupaten Tangerang tak sekadar memeringati hari bersejarah itu, namun menunjukkan langkah nyata dalam bekerja,
jangan mudah terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi menuntut keberanian untuk menjawab tantangan zaman,"ungkapnya

Di sisi lain, keadaan di dalam negeri juga menghadirkan ironi tersendiri. Aktivis, jurnalis, akademisi, hingga masyarakat sipil yang bersuara kritis kerap dicurigai, diberi label “Antek Asing”, atau dianggap mengganggu stabilitas. Padahal kritik merupakan bagian penting dari Demokrasi dan tanda bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap arah bangsa,"jelas Suhud

Dalam sejarahnya, kebangkitan Nasional justru lahir dari keberanian berpikir dan keberanian bersuara. Para pelajar, wartawan, tokoh pergerakan, hingga organisasi masyarakat dahulu tidak memilih diam ketika melihat ketidak adilan. Mereka sadar bahwa bangsa yang takut bersuara akan lebih mudah kehilangan arah. Karena itu, menjadi ironi ketika kritik hari ini lebih sering dipandang sebagai ancaman dibandingkan sebagai bentuk kepedulian.

Apalagi Tema Hari Kebangkitan Nasional Tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”,

Itu seperti membawa pesan tentang pentingnya menjaga generasi muda sebagai aset bangsa demi memperkuat kedaulatan Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, teknologi, sosial, budaya, maupun pembangunan Nasional. Namun di saat yang sama, tema itu terasa kontras dengan realitas yang banyak dirasakan masyarakat saat ini," tutur Suhud.

Bagaimana generasi muda dapat benar - benar tumbuh kritis jika suara - suara yang berbeda justru mudah dicurigai ? Bagaimana kedaulatan dibicarakan dengan penuh semangat, sementara ketergantungan terhadap kepentingan asing masih begitu besar di berbagai sektor ?

Yang membuat banyak orang semakin gelisah adalah ketika tuduhan terhadap rakyat justru muncul bersamaan dengan kedekatan sebagian elit terhadap kepentingan kapital asing. Bahkan tidak sedikit perusahaan global yang memiliki keterkaitan dengan dukungan terhadap penjajahan dan kekerasan kemanusiaan di Palestina tetap diberi ruang begitu besar dalam berbagai sektor kehidupan.

Di titik inilah Hari Kebangkitan Nasional seharusnya kembali menemukan makna sejatinya. Artinya "Bangkit Bukan Sekadar Mengingat"

Kebangkitan bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan, tetapi keberanian untuk tetap memiliki nurani di tengah arus dunia yang perlahan membuat manusia terbiasa melihat ketidak adilan. Kebangkitan adalah kesadaran untuk tidak mudah diam ketika kemanusiaan diinjak.

Kebangkitan juga berarti keberanian untuk berpikir jernih, bersikap kritis, serta tetap berpihak pada nilai keadilan, meski sering kali terasa tidak populer dan menghadirkan konsekuensi. Sebab bangsa ini tidak lahir dari sikap tunduk kepada penjajahan. Bangsa ini lahir dari keberanian melawannya.

Oleh karena itu, Hari Kebangkitan Nasional semestinya tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang hanya dipenuhi slogan dan formalitas. Itu seharusnya menjadi momen untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih memiliki keberanian moral seperti para pendahulu bangsa, atau justru perlahan mulai kehilangan keberanian itu ?," jelas Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten

Karena kebangkitan yang sesungguhnya bukan terjadi saat bendera dikibarkan atau pidato dibacakan. Kebangkitan yang sesungguhnya lahir ketika hati dan kesadaran bangsa ini kembali hidup, untuk membela kemanusiaan, menjaga keadilan, serta tidak pernah terbiasa melihat penjajahan sebagai sesuatu yang normal,"pungkasnya.



(Yanto)