Usai Libur Hari Raya Idul Fitri, Ribuan Peziarah Tetap Padati Kawasan Wisata Banten Lama

Usai Libur Hari Raya Idul Fitri, Ribuan Peziarah Tetap Padati Kawasan Wisata Banten Lama

DELIK HUKUM
Kamis, 26 Maret 2026


KABUPATEN TANGERANG, MEDIA DELIK HUKUM.COM - Momentum Idul Fitri bagi masyarakat Banten bukan sekadar ajang silaturahmi antar anggota keluarga, melainkan juga momen untuk kembali ke akar sejarah. Kawasan Wisata Religi Banten Lama kembali menjadi pusat perhatian dengan Ribuan peziarah yang datang untuk memberikan penghormatan kepada para penguasa Kesultanan Banten pada masa lalu.

Hal tersebut disampaikan Ali Bondan, Aktuvis Kecamatan Kronjo kepada Awak Media. Menurutnya, Sejak H+2 Lebaran, kompleks Masjid Agung Banten dan makam Sultan Maulana Hasanuddin selalu dipenuhi pengunjung yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Fenomena ini membuktikan bahwa pesona Banten Lama sebagai simbol kejayaan Islam di Tanah Jawara tetap abadi melintasi zaman. (26/03/2026)

Apalagi saat memasuki kawasan tersebut, pengunjung seolah dibawa kembali ke abad ke-16, masa di mana Banten merupakan salah satu bandar pelabuhan Internasional terbesar di Asia Tenggara. Kehadiran peziarah di momen Lebaran sering kali dimaknai sebagai upaya menjaga koneksi spiritual dengan sejarah besar Banten,"ucap Ali Bondan yang datang bersama keluarganya

“Berziarah ke sini adalah bentuk penghormatan terhadap jasa Sultan dalam menyebarkan syiar Islam. Kami datang bukan hanya untuk berdoa, tapi untuk merasakan atmosfer kebesaran sejarah yang ditinggalkan leluhur kami,” ungkap Bondan
 
Dirinya menambahkan “Kunjungan kami bersama keluarga ini bukan sekadar wisata biasa, melainkan penghormatan mendalam terhadap tokoh sentral pendiri kesultanan serta kekaguman atas sisa-sisa kemegahan arsitektur yang masih berdiri kokoh,”jelasnya.

Selain aspek religi, para pengunjung juga terpikat oleh kekayaan arsitektur yang mencerminkan keterbukaan Banten terhadap budaya luar: Contohnya : 

1. Menara Masjid Agung: Bangunan ikonis setinggi 24 meter karya arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel, yang memadukan unsur bangunan Eropa dengan fungsi menara azan.

2. Atap Tumpang Lima: Representasi akulturasi budaya lokal dan Islam yang tetap kokoh berdiri menaungi para peziarah sejak masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf.

3. Benteng Surosowan: Reruntuhan istana yang menjadi saksi bisu tata kota modern di masa kesultanan yang pernah memiliki sistem drainase dan pertahanan yang canggih.

Ramainya kunjungan di hari Kamis malam Jum'at ini juga dimanfaatkan orang tua untuk mengedukasi generasi muda. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama yang berada di kawasan tersebut menjadi destinasi pelengkap, menyuguhkan artefak keramik, mata uang kuno, hingga meriam legendaris “Ki Amuk” yang menjadi simbol kekuatan militer Banten di masa lampau,"jelas Ali Bondan. 

Menurutnya, meski modernitas terus berkembang, tradisi ziarah Lebaran di Banten Lama menegaskan bahwa identitas sejarah dan nilai spiritual tetap menjadi fondasi utama bagi masyarakat Banten dalam merayakan hari kemenangan.

Ditambah Kawasan Banten Lama adalah jantung dari Kesultanan Banten yang didirikan pada tahun 1526. Sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan dunia, situs ini kini menjadi cagar budaya Nasional yang menyimpan kekayaan sejarah Islam, diplomasi internasional, dan arsitektur lintas budaya," pungkasnya.

(Yanto)